Senin, 09 Juli 2012

7 Fakta Dibalik Label Makanan


7 Fakta Dibalik Label Makanan – Saat berbelanja, label yang tertera di kemasan menjadi perhatian penting bagi konsumen untuk menentukan pilihan. Tetapi, jangan terjebak label yang kerap membingungkan.

Sebuah penelitian di Universitas Carolina Selatan menemukan, makanan yang ditempeli kata ‘sehat’ dan ‘organik’ seringkali menipu. Orang yang sedang menjalani diet dan memperhatikan berat badan lebih cenderung disesatkan label.
Ada beberapa cara untuk mengetahui apa yang ada dalam sebuah produk lewat kemasannya. Anda harus pintar-pintar membedakan makanan yang sehat dan tidak dari label kemasan.

Berikut tujuh istilah yang sering muncul pada kemasan dan menu, seperti dikutip dari majalah Fitness.

Bebas Gluten
Produk bebas gluten dirancang bagi mereka dengan penyakit celiac, atau ketidakmampuan mencerna gluten (protein dalam gandum, barley, dan rye). Makanan ini populer setelah beberapa seleb seperti Gwyneth Paltrow mengonsumsinya.

Konsumsi produk bebas gluten umumnya sebagai upaya meringankan penyakit sindrom iritasi usus besar, gangguan konsentrasi serta menurunkan berat badan. Faktanya, Anda tak memerlukan produk mahal ini kecuali menderita celiac atau sensitivitas gluten, yang menyebabkan diare dan migrain setelah konsumsi gluten.

“Bebas gluten tidak secara otomatis sama dengan sehat,” kata pakar nutrisi Shelley Case. Diet bebas gluten tidak dapat menurunkan berat badan karena rendah serat, kebanyakan tidak diperkaya dengan vitamin B dan zat besi sehingga mungkin kehilangan nutrisi penting.

Bebas Lemak Trans 
Lemak trans umumnya terjadi saat minyak dipanaskan dengan hidrogen untuk meningkatkan umur simpan dan memperbaiki struktur makanan. Namun, lemak trans meningkatkan kolesterol jahat “LDL” dan menurunkan kolesterol baik ‘HDL’.

Meski sejumlah restoran dan produk berlabel bebas lemak trans, Anda tak bisa menghindarinya. Bila makan kerupuk, beberapa porsi kue, gorengan dalam satu hari, meski diklaim bebas lemak trans Anda telah mengonsumsi sekitar 2,5 gram lemak trans. Hindari junk food, makanan ringan seperti kue, donat, dan makanan kaleng untuk memangkas asupan lemak trans.

Pemanis Rendah Fruktosa
Beberapa tahun lalu, periset menemukan, kadar fruktosa tinggi dalam pemanis buatan berkaitan erat dengan obesitas dan diabetes. Untuk mengurangi kandungan fruktosa, banyak perusahaan makanan yang mengganti pemanis HFCS termasuk dengan madu, sukrosa, kecap dan jus.

Faktanya, label rendah fruktosa seringkali hanya gimmick. Menurut penelitian terbaru yang dipublikasikan dalamAmerican Journal of Clinical Nutrition, tidak ada bukti bahwa kadar fruktosa tinggi lebih erat terkait dengan obesitas daripada pemanis lainnya.

Untuk itu, perhatikan label makanan yang akan Anda beli. Jangan membeli produk dengan pemanis yang masuk empat bahan utama termasuk madu, sirup, sukrosa, fruktosa, dan jus buah. Ingat juga bahwa empat gram gula setara dengan satu sendok teh.

Makanan Lokal
Produk ini umumnya disebut sebagai hasil pertanian lokal yang diklaim lebih sehat dan lebih lezat daripada makanan dari luar kota. Kate Geagan, RD, penulis Go Green mengatakan, makanan yang diproduksi dalam jarak dekat dapat memengaruhi nutrisi seperti vitamin C dan asam folat yang sangat rentan berkurang.

Tapi ini hanya berlaku pada rasa dan nutrisi buah lokal seperti apel dan pir. Namun, tak berarti mentega, daging dan unggas lokal lebih sehat. Dia juga menjelaskan produk lokal bukan berarti organik. Jadi, bila menghindari pestisida, antibiotik, dan tambahan hormon, tanyakan bagaimana produk itu ditanam atau diternakkan.

Gandum Utuh
Sebagian besar orang berbelanja gandum utuh dan bahan-bahan yang terbuat dari gandum utuh seperti kue kering karena menganggapnya sehat.

Sebenarnya, mengonsumsi biji-bijian lebih sehat daripada produk yang diklaim mengandung gandum utuh. Saat membaca label, sebaiknya beli produk berlabel ’100 persen gandum utuh’ bukan hanya label ‘dari gandum utuh’. Untuk menyakinkan, perhatikan label fakta nutrisi dengan kandungan serat setidaknya 3-4 gram.

Rendah Lemak
Banyak produk yang menggunakan label ini termasuk permen. Sehingga, sepertiga dari orang cenderung makan lebih banyak bila produk rendah lemak.

Banyak makanan yang ‘rendah lemak’ memiliki kalori sama seperti makanan penuh lemak. Produsen dapat menyimpan gula tambahan pada produk es krim atau kue rendah lemak untuk meningkatkan rasa. Dan, inilah yang menjadi kesalahan orang berdiet.

Alih-alih takut mengonsumsi semua lemak, lebih baik pilih produk yang memiliki lemak tak jenuh tunggal dalam almond, alpukat, zaitun, minyak canola, dan biji wijen. Atau, lemak omega-3 dalam kenari, biji rami, ikan berlemak, seperti salmon dan daging tanpa lemak, serta olahan susu seperti keju dan yogurt tawar.

Organik
Studi Universitas Cornell menemukan, saat orang diminta membandingkan rasa kue kering ‘organik’ dan ‘biasa’. Mereka menemukan, kue organik lebih enak, rendah lemak dan rendah kalori meskipun harganya jauh lebih mahal.

Dalam beberapa kasus, makanan organik jauh lebih sehat. Susu organik mengandung lemak omega 3 lebih tinggi, asam linoleat terkonjugasi, vitamin E dan lemak yang baik untuk melawan penyakit jantung.

Namun, Anda bisa menghindari makanan berlabel organik bila membeli produk biji-bijian, seperti keripik, mie, kue, dan biskuit beras, karena produk ini cenderung tidak memiliki residu pestisida yang banyak.

Untuk menghemat pengeluaran, sebaiknya beli makanan organik hanya ketika ingin mengasup buah-buahan dan sayuran tertentu yang mengandung tingkat residu pestisida tinggi, seperti:

  • Apel
  • Seledri
  • Stroberi
  • Persik
  • Bayam
  • Nektarin impor
  • Buah anggur impor
  • Paprika manis
  • Kentang
  • Bluberi
  • Selada
  • Kale

Tidak ada komentar:

Posting Komentar